Senin, 18 Mei 2009

TEOSOFI HIDUP MUSLIM

A. MAKNA TEOSOFI
Apa sebenarnya arti kata Theosofi? Secara etimologi Teosofi berasal dari
kata teo yang artinya ketuhanan dan sophia yang berarti kebijaksanaan.
Dijelaskan pula oleh Blavatsky : "Kearifan ilahi (Theosophia) atau kearifan para
dewa, sebagai theogonia, asal-usul para dewa. Kata theos berarti seorang dewa
dalam bahasa Yunani, salah satu dari makhluk-makhluk ilahi, yang pasti bukan
‘’Tuhan’’ dalam arti yang kita pakai sekarang. Karena itu, Theosofi bukanlah
‘Kebijaksanaan Tuhan’ tapi kebijaksanaan para Dewa, seperti yang diterjemahkan
sebagian orang, tetapi sebagai orang Islam tentunya Teosofi
diartikan‘Kebijaksanaan ilahi’ seperti yang dimiliki oleh Allah swt.’’
Teosofi disini lebih cenderung terhadap pengertian bagaimanakah peran
atau andil Tuhan terhadap kehidupan manusia. Seringkali kita mendengar ayat
yang menyatakan bahwa “Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu
tidak merubahnya sendiri ”. Tapi disini timbul sebuah permasalahan bahwasanya
golongan Qadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam
menentukan perjalanan hidupnya, menurut paham ini manusia memiliki
kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Sedangkan kaum
Jabariah berpendapat sebaliknya, manusia tidak mempunyai andil terhadap
kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam
paham ini terikat pada kehendak tuhan.
B. HAKEKAT HIDUP
Apa sebenarnya hidup itu? Mengapa manusia diciptakan? Apa tujuan kita hidup?.
Pertanyaan di atas merupakan keingintahuan kita tentang hal mendasar dalam
hidup. Mungkin masih ada segudang pertanyaan yang sampai saat ini belum
kita temukan jawabannya, mugkinkah otak kita yang tak mampu menjangkau
itu semua atau hal tersebut memang telah menjadi sebuah rahasia Ilahi. Wallohu
a’lam.
Hakekat hidup tidak dapat didefinisikan secara detail dengan kata-kata, karena
itu semua lebih bermakna ketika kita menjalaninya. Kita tak mampu
mendefinisikan tapi kita mampu merasakan, karena definisi hidup bagi tiap
orang itu berbeda. Lalu bagaimanakah seorang muslim memandang hidup itu.
Menurut Islam, hidup manusia tidak bermakna tanpa hari kebangkitan. Apa
makna ujian kalau pahala atau hukumnya tidak diberikan dengan sepenuhnya.
Bagaimana bisa ada tujuan jika manusia dilahirkan, hidup, lalu mati dan
perbuatan-perbuatannya tidak diadili. Namun, dunia materi yang sementara ini
tidak dapat mewujudkan pahala dan keabadian. Oleh karena itu, harus ada alam
lain tempat mewujudkannya pahala dan hukuman ini sepenuhnya. Alam lain itu
adalah akhirat, yang hanya dapat kita capai bila Allah membangkitkan dan
mengadili kita.
Seperti yang disaksikan oleh alam semesta ini, segala hal mencerminkan Tuhan
bagaimanapun caranya. Apapun yang ada dan terjadi adalah hasil dari
manifestasi Asma-asmaNya yang relevan. Kita melihat, bergerak, dan belajar
serta bernalar karena Tuhan . Jadi, hidup manusia adalah indeks atau petunjuk
bagi keajaiban yang berasal dari Asma-asma Illahi. Hidup manusia adalah alat
untuk memikirkan sifat-sifat dan kesempurnaan Illahi. Hidup adalah sebuah unit
untuk mengetahui “dunia” di dalam alam semesta ini, sebuah katalog dari
makroskoma (alam raya), sebuah peta untuk alam semesta dan buahnya atau
bentuk kecil dari alam semesta itu, dan seperangkat kunci yang dapat digunakan
untuk membuka harta karun milik kuasa Illahi. Hidup manusia adalah kata
yang terpahat, sebuah kebajikan yang menggambarkan kata yang ditulis oleh
Pena Kuasa.
Dengan demikian, tidaklah benar atau tidaklah masuk akal bagi manusia untuk
menyia-nyiakan hidupnya dengan memuaskan nafsu-nafsu jasmaniah yang
fana dan hanya mengejar kesenangan-kesenangan duniawi yang sekejap saja.
Banyak hal dilakukan hanya untuk mengejar kebahagiaan duniawi semata,
banyak orang yang bekerja keras maraup harta melimpah ruah untuk
kebahagiaan hidup di dunia, tapi mereka melupakan hal lain yang perli dicari jua.
Sebuah bekal untuk mencapai kehidupan yang hakiki. Hidup harus diabdikan
demi pencarian untuk menyadari tujuan yang dipikulkan kepada hidup itu
sendiri oleh Sang Pemberi Hidup.
C. TEOSOFI HIDUP UMAT ISLAM
1. Keselarasan Hidup Umat Islam
Diantara mahluk di alam ini, hanya manusialah yang mempunyai kesadaran.
Mereka tahu apa yang mereka lakukan, mengapa dan untuk siapa mereka
melakukannya, serta mengapa orang-orang beribadah dan bekerja. Hal ini
berdasar pada firman Allah dalam QS. Adzariyat ayat 56 yang menyatakan
bahwa, “Allah tidak menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah
kepadaNya”. Maksud ayat diatas perlu pemaknaan tersendiri, sebagai manusia
yang dikaruniai akal tentunya kita tidak akan menelan mentah-mentah arti
ayat di atas. Tapi lebih dari itu, kita harus memahami bahwa ibadah yang
dimaksud tidak sekedar ibadah secara ritual tapi juga ibadah dalam hal sosial,
ekonomi dan berbagai aspek lainnya. Kita dituntut hidup di dunia agar mampu
menyelaraskan kehidupan, baik kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Dalam Q.S Al-Qashas ayat 77. Allah menerangkan bahwa “Carilah apa yang
dianugerahkan Allah bagimu di akhirat dan jangan melupakan bagianmu di
dunia”. Dari ayat di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwasanya manusia
harus mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan kehidupan di dunia dan
akhirat. Jangan sampai dalam mengejar dunia kita lupa akan akhirat hingga 24
jam waktu yang kitapunya hanya untuk mencari uang atau menghabiskan
untuk kesenangan semata, hingga mungkin bisa mencapai pada tataran kaum
hedonisme.
Sering kita mendengar bahwa hidup di dunia hanyalah sekedar tempat mampir
atau sekedar istirahat untuk minum air. Dan perjalanan yang jauh adalah
akhirat, sebuah keabadaian hidup manusia nantinya. Tapi disini kita juga jangan
sampai menganggap remeh hidup dunia, karena tidak sedikit orang yang jumud
hanya memikirkan kepentingan akhirat, bahkan dalam kehidupan sehari-harinya
pun kurang bersosial dalam kehidupan masyarakat. Hidup di dunia memang
hanya sementara, tapi di alam yang fana inilah kita mencari bekal untuk
mencapai kehidupan akhirat. Di dunia inilah kita beraktifitas, menuntut ilmu,
nekerja, berumah tangga, dan berjihad di jaln Allah yang kesemuanya adalah
ibadah. Bahkan dalam hadits Nabi SAW pun dikatakan bahwasanya “Berbuatlah
untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya, dan berbuatlah
untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati esok hari .”
Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ketika kita hidup di dunia
tentu harus bersungguh-sungguh agar hidup kita tidak sengsara hidup di dunia
dan juga bersungguh-sungguh dalam mencari bekal hidup di akhirat yakni bekal
iman dan taqwa kita sebagai umat muslim.
2. Peran Kebijaksanaan Allah dalam hidup
Sejauh manakah peran dan andil dalam kehidupan kita? Saat kita melangkah,
berbuat, bertindak, dan mengambil sebuah keputusan, siapakah yang berperan
dalam hal ini. Apakah semua itu murni atas kehendak kita atau ada unsur dari
Allah. Lalu ketika manusia itu tercipta sebagai penjahat, da’i, politikus, pemulung
dan lainnya apakah itu sebuah pilihan atau nasib bagi yang menjalaninya.
DAFTAR PUSTAKA
Mohamad, Yasin. 1997. Insan yang Suci . Bandung: Mizan
Nasution, Harun. 2002. Teologi Islam. Yogyakarta: UI-Press.
Unal, ali. 2002. Makna Hidup Sesudah Mati . Jakarta: Grafindo Persada.
http://www.Swara muslim.Net
http://www. Media Isnet.Org
http://www.Hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar