Senin, 06 April 2009

Memory's of my story

...Doa untuk Irul...

Kulihat bentangan sajadah di masjid yang luas nan megah itu diiringi dengan alunan firman Allah dalam setiap gerakan shalat yang mengalun merdu nan indah hingga gema salam pun terdengar begitu menyejukkan hati dan telinga bagi setiap mereka yang mendengarnya, rintihan dan curahan hati terbisik dalam zikir setiap jamaah yang ada di masjid itu.
Tak jauh dari pandangan mataku, di depan barisan shafku kulihat Irul yang dengan khusu’nya bermunajat kepada Allah dengan tangan menengadah dan bisikan doa yang terucap dalam gerakan bibirnya, kulihat cahaya yang terpancar dalam dirinya yang begitu terang dan sungguh menyilaukan mata, meskipun dalam masjid itu sudah terang dengan cahaya neon di setiap sudut dan tengah ruangan namun cahaya itu benar-benar berbeda dan hanya kulihat ada pada Irul.
Sesaat tiba-tiba ku menewarang cahaya itu kian surut dan semakin lenyap entah pergi kemana, kulihat Irul masih tetap khusu’ dalam alunan do’anya hingga semua jamaah sudah beranjak meninggalkan masjid, dan seketika itu cahaya dalam diri Irul benar-benar hilang dan aku tak sanggup melihatnya, ku menjerit sekuatnya, tapi kerongkongan ini serasa kering dan sia-sia ku menjerit, sedikitpun jeritanku tak terdengar oleh diriku sendiri.
Hingga akhirnya kuterperanjat dari ketakutanku mendengar suara aneh yang tak jelas dari mana arahnya yang serasa mendekat ke arahku dan mengaburkan pandangan mataku ke arah Irul...
”Irul....Irul....Choirul”,jeritku dari bibir yang tak bernada, dan subhanallah ternyata ku hanya mimpi, mimpi melihat Irul tepatnya Muhamad Choirul Akbar seorang akhwan yang dulu pernah menjadi pacarku di SMA. Yah ku melihat terakhir kalinya setahun yang lalu ketika perpisahan SMA, dan ini terasa aneh karena tiba-tiba dia hadir dalam mimpiku ini.
Lima menit dari kebingunganku atas mimpi itu ternyata Hpku berdering sangat keras, dan mungkinkah suara dalam mimpi tadi adalah nada dari Hpku, aku tidak tahu dan Wallohu a’lam.
Kuangkat telpon tak bernama itu dengan setengah hati,”Vi, gimana kabar, afwan ganggu. Ini Irul....besok pagi ku mau operasi karena infeksi ginjal akut sebelah kanan, mohon doanya ya”, suara Irul terdengar sangat parau dan tanpa tersadar membuat air mataku menitis sesaat ku menutup telpon darinya, ku langsung sock dan tak percaya dengan berita yang baru kudengar dari Irul, ini membuatku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Irul.
Ku pencet Hp dan mengirim pesan pada Irul untuk menutupi rasa penasaranku akan keadaannya, dan setelah beberapa menit ku bertanya kabar lewat sms tiba-tiba Irul menyatakan bahwa dia pengen balikan lagi ma aku, dia katakan akulah gadis yang terbaik buat Irul meskipun selama setahun ini dia udah pernah menjalin kasih dengan cewek lain.
Penasaranku justru semakin menggebu, apa sebenarnya yang terjadi pada Irul, dalam kondisi sakit dia justru mengatakan semua itu, padahal dulu aku dan Irul sudah pernah berkomitmen untuk saling meniti jalan sendiri-sendiri dan hanya bersahabat semata, ku juga sudah berusaha melupakan setiap kenanganku dengan Irul di SMA. Meskipun rasa cinta itu masih ada dan ku meyakini bahwa cinta itu anugrah dari Allah, tapi ku tak ingin lagi melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.
Ku ingin berproses menjadi seorang muslimah sejati yang kaffah dalam menjalankan setiap seruan Ilahi, tapi Irul justru ingin aku jadi motivator dan penyemangat dalam hidupnya serta menjalin kembali kisah kita yang dulu. Dan kujelaskan kepada Irul bahwa aku pengen sahabatan aja dan tetep jadi saudara, tapi Irul justru mengatakan hal yang bikin aku tambah pening .
“Ku g’tau Nov apa aku bisa selamat menjalani operasi ini, sementara orang kusayangi aja g’ada di sampingku dan justru menutup hati untukku, jadi buat apa aku hidup”.
kata-kata Irul benar-benar membuatku serba salah, kuakui memang rasa cintaku pada Irul masih tetap seperti yang dulu, tapi aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, ku ingin jika memang Allah menghendaki kebersamaanku dengan Irul maka semua itu terjalin dalam sebuah ikatan pernikahan bukan sekedar pacaran.
Sekarang umurku baru 18 tahun masih bayak dunia yang mesti kujamah dan masih tinggi asa yang mesti kugapai sebelum memikirkan kehidupan berumah tangga...
Sesaat dari kegalauanku ku langsung bermunajat kepada Allah tuk memohon petunjuk padaNya, apa yang harus kulakukan agar ku tetap berada dalam jalanNya. Di satu sisi ku ingin melihat Irul tersenyum kembali dan setidaknya memberi secercah cahaya dalam hidupnya meski kutahu Allahlah yang menetukan segalanya. Tapi disisi lain ku tak ingin menodai komitmenku sebagai seorang muslimah yang tentunya semua amalku akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.
Tanpa tersadar ku tertidur dalam heningnya malam yang semakin pekat, gelap nan gulita.
“Ass gmana kabar Ovi hari ini, apa jawaban kamu tentang perasaanku ma kamu, kuharap itu dapat memberi sedikit senyum sebelum operasiku dimulai”, sms dari Irul pagi ini benar-benar membuatku bingung,
Langsung saja kukatakan kalau ku g’bisa pacaran lagi, ku hanya ingin bersahabat dan saling dukung satu sama lain. Jika memang jodoh biarlah Allah yang akan mengaturnya.
“ Berdoa terus ya Rul, ku yakin kamu pasti bisa ngejalanin operasi ini, doaku selalu menyertaimu..da Irul”. Sepatah kata yang kuucapkan terakhir kali sebelum opersinya dimulai.
Dua jam kemudian ku tersentak kaget nmendengar kabar bahwa Irul tidak terselamatkan ketika operasi, jantungnya lemah ketika dioperasi dan infeksi ginjal yang dideritanya sudah akut hingga dia tidak bisa menahan rasa sakit akibat pendarahan. Ya Allah hatiku sangat sakit bagai diiris sembilu belati yang sangat tajam, kumenangis menyesali apa yang terjadi.
Di detik terkhirnya ku tak bisa memberi sedikit senyum kepada orang yang kusayangi, tapi ini sudah komitmenku untuk tidak pacaran lagi. Apa aku salah karena memilih jalan Mu ya Robb, dan apakah aku lebih salah lagi karena tidak bisa membuat orang yang kusayangi tersenyum untuk terakhir kalinya...Hanya engkau yang tau ya Robbi, hanya untaian doa yang akan slalu kulantunkan untukmu, untuk orang yang kusayangi...Semoga kau mendapat tempat yang layak di sisi Allah, selamat jalan Irul, selamat jalan cinta...................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar