Senin, 06 April 2009

Phenomena Alam

GLOBAL WARMING
Problem Dunia
Oleh: Noviatun S

Global warming, sebuah fenomena alam yang tidak akan pernah tuntas untuk dibicarakan. Ibarat virus HIV yang menggrogoti korbannya perlahan-lahan, dan sulit teratasi jika tak ada sebuah pencegahan dari awal. Dari tahun ke tahun pemanasan global ini kian mengganas dan tak akan pernah terpecahkan jika hanya menjadi sebuah wacana. Perlu adanya sebuah aplikasi tindakan dari every human in the world untuk meminimalkan adanya fenomena komplek ini.
Pemanasan global bukan hanya menjadi masalah negara, tetapi sudah menjadi problematika mendunia. Hal ini dikarenakan meningkat atau tidaknya pemanasan global itu tergantung dari setiap individu dalam beraktifitas. Selain itu, efek yang ditimbulkan pun tidak hanya mengena pada satu bagian, melainkan seluruh alam jagad raya ini. Perlu adanya sebuah pemahaman dan kesadaran mengenai pemasan global, dan tindakan apa yang dapat kita lakukan senbagai salah satu bentuk upaya meminimalkan global warming tersebut.
Pemanasan global merupakan kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi.
Temperatur rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0,74o Celcius selama seratus tahun terakhir. Intergonermental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa,”sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak peretngahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca aktivitas manusia”.
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas dan menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap tetap terperangkap di atmosfer bumii akibat meningkatnya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida (CO2), Karbon monoksida (CO), Metana, CFC dan sebagainya. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dqn semakin banyaknya gas tersebut di atmosfer, maka semakin banyak pula panas yang tertangkap di bawahnya.
Efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya akan lebih besar dibandingkan gas karbondioksida itu sendiri.
Para ilmuan menggunakan model komputer dan temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
Selama pemanasan global, daerah bagian utara dari belahan bumi akan memanas dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya gunung-gunung es akan mencair dan deretan akan mengecil. Daerah hangat akan menjadi lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan sedikit panas sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Perubahan tinggi rata-rata muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan.
Di dunia yang semakin panas, para ilmuan memprediksi akan lebih banyak orang yang terjangkit penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya. Diantaranya yaitu demam dengue, demam kuning, malaria, dan enchepalitis.
Sebuah realita menunjukan konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1% per-tahun. Dan salah satunya adalah banyaknya kendaran yang beroperasi. Sebagai contoh di Indonesia, jika setiap orang menggunakan mobil pribadi dan hanya ditumpangi satu orang, maka berapa banyak karbonmonoksida yang dikeluarkan setiap harinya? Ini menjadi PR bagi kita semua, seandainya tiap orang sadar dan mau bergaya hidup sederhana dengan memanfaatkan kendaraan umum atau beudaya jalan kaki dan bersepeda, tentunya dapat meminimalkan pengeluaran gas CO.
Selain itu juga perlu adanya kesadaran tiap negara untuk mencintai penghijauan, tidak sebatas mengejar pembangunan saja. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya dapat menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah telah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk pembangunan rumah tinggal atau pendirian industri.
Ketika fenomena di atas telah jelas menunjukan dampak buruk bagi kita, tentunya sebuah langkah dan tindakan sangat perlu dilakukan. Hal ini bukan semata karena itu merugikan kita, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah Allah yang dititipkan kepada kita. Dan Allah sendiri telah melarang keras bagi hambanya yang berbuat kerusakan di muka bumi ini. Maka, peliharalah apa yang telah dititipkan kepada kita dan mulailah meminimalkan global warming dari diri kita sendiri dan mulai saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar