Senin, 06 April 2009

Setitik Tinta dalam Cinta

“Cahayamu”
By:Noviatun salamah?P.mtk/2
Mataku sayu, tatapanku kabur dan kulihat bintang-bintang berputar di atas kepalaku. Tiba-tiba perutku mual dan keseimbanganku menghilang hingga akhirnya kesadaranku melayang, terbang entah kemana.
Mendadak kulihat cahaya yang begitu terang di ufuk timur sana, hamparan padang sahara begitu luas dan memantulkan kilauan pasir yang berkilat-kilat. Tak kulihat satupun binatang ada dalam padang yang luas itu, hanya beberapa kaktus tampak bertnggeng di beberapa sudut hamparan itu.
Ku tatap ribuan manusia berbalutkan kain putih berduyun-duyun menuju suatu tempat yang kelihatannya agak tinggi dan lebih bercahaya. Mereka melangkahkan kakinya dengan mengumandangkan kalimat Lailaahaillallah. Bulu kuduku seketika itu merinding dan air mataku menitis tak terbendung.
Ingin ku melangkah seperti mereka mencapai tempat abadi di bawah sinar yang begitu terang, tapi pijakkan kaki ini terasa berat dan badanku lemah tiada daya. Hanya jeritan hatiku yang meraung-raung, merana, mencari sebuah jawaban. Lidahku kelu dan kaku untuk mengucapkan Allahu akbar, kaki dan tubuhku bahkan serasa tak bisa digerakkan.
Sepintas terlihat di depan pandangan mataku sesosok lelaki berjubah putih yang mengatakan padaku bahwa belum saatnya aku melangkah menuju arah cahaya itu.
”Kau masih punya amanah yang harus diemban, jagalah adikmu sebagaimana kau menyayangi adikmu, suatu saat nanti jika tiba saatnya kau akan mampu menggapai cahaya itu”. Pesan itu terasa menyesakkan nafasku hingga tak kusadari ku sudah berada di alam lain.
Deg...jantungku berdetak keras dan mataku perlahan-lahan mulai membuka menatap tiap pandangan teman-teman kuliahku. Dan baru kusadari bahwa aku baru saja pingsan dan kusadari aku telah berada di suatu tempat di alam bawah sadarku.
Ku teringat kata-kata lelaki misterius itu bahwa aku harus menjaga adikku. Ya Farah Azaliyyah, satu-satunya harta yang kumiliki sepeninggal kedua orang tuaku ketika Ara masih balita.
“Ara, kini kau telah remaja, usiamu sudah 13 tahun, tapi tingkah dan sikapmu begitu dewasa”. Ucapku sambil mengelus Ara yang sedari tadi ketiduran di meja belajar.
Tiba-tiba batinku menangsis, merintih, dan merana. Aku merasa iba melihatnya, seharusnya di usia belia ini dia bisa mendapat kasih sayang lebih dari ayah bunda dan memanjakan masa remajanya dengan teman-temannya. Tapi tidak untuk Ara, dia justru harus melawan kerasnya dunia luar yang begitu dahsyat. Salah satunya adalah ia harus bersekolah sambil berjualan cinderamata yang kami buat dengan memanfaatkan sampah bekas di belakang rumah kami, maklumlah penghasilanku dai kerja part time dan les privat tak cukup untuk membayar SPPnya. Bahkan untuk mengganjal perutpun aku hanya mengisi dengan sesuap nasi dan secimit garam, hingga dapat dikatakan kami harus berpuasa setiap hari.
Hanya rumah sederhana dan sebuah sepeda motor warisan kedua orang tuaku yang kumiliki, tapi lumayanlah bisa mempermudah aku pulang pergi mengajar les privat. Yah untungnya aku dan Ara diberi kecerdasan lebih, sehingga kami tak ketinggalan pelajaran meski harus sambil bekerja.
“Mba’ Ophy.....mba’!!! teriakan Ara tiba-tiba membuyarkan lamunanku, dan secara refleks ku langsung menilik adikku yang sedrai tadi telah kupindahkan ke tempat tidur. Mba’ Ara dingin banget, aku pengen menuju cahaya kehangatan mba’”, suara Ara bergetar hingga tiba-tiba membuatku merinding.
Ku peluk tubuhnya yang tirus menggigil dan ku elus dahinya yang panas menyengat. Kepanikanku semaknm memuncak, rasa takutku yang dulu kini hadir kembali dalam benak hatiku.
Bayangan ibu bapakku muncul dihadapanku dan mengingatkanku akan kematian mereka dengan tanda yang sama dengan yang dialami Ara sekarang ini.
Malam semakin larut dan hujan yang sedari tadi mengguyur kota Jogja ternyata tak kunjung berhenti. Dalam situasi ini kemana aku harus mencari obat, sementara Ara tidak mau ditinggal sendirian, dia takut tpetir dan trauma dengan kilat. Hanya kompres air dan membalut tubuhnya dengan selimut yang dapat kulakukan disamping kudampingi Ara dalam doa dan cinta. Ketakutan demi ketakutan semakin terasa di ulu hatiku yang dalam, hingga tak kusadri air mataku telah membasahi selimut adikku. Kulihat Ara semakin lemah dan memucat membuatku semakin terisak melihatnya.
“Mba’ jangan nagis dong , ku g’apa-apa.....bentar lagi cahaya kehangatan itu benar-benar hadir dalam diriku”.
“G’ Ra..bertahanlah, jangan dulu kau gapai cahaya itu, masih banyak yang mesti kau raih dan kau gapai”,ucapku sambil memeluk tubuh adikku yang semakin melemah”.
“Mba’, bentar lagi nur itu hadir dan membawaku melayang, temani aku dan peluk erat tubuhku mba’, suara Ara benar-benar semakin parau dan memelas akan kehangatanku.
Dekapan Ara benar-benar mulai menghilang, suhu tubuhnya kian mendingin, dan mukanya benar-benar pucat pasi. Sesaat ku memegang nadinya, dan Innalillahi rajiun Ara benar-benar telah pergi. Ku menjerit sejadinya, memecah malam yang semakin pekat. Ku goyangkan tubuh Ara atas ketidakpercayaanku akan kepergiannya. Usianya masih sangat muda, ibarat bunga kini dia layu sebelum berkembang.
Ku hanya bisa berdoa melihat kepergiannya ke sisi Ilahi, sebuah cahaya benar-benar tersorot dari tubuhnya yang terbujur kaku. Senyuman terakhirnya benar-benar mengembang dan mengenang. Mungkinkah ini sebuah cahaya yang pernah kulihat dalam mimpi, cahaya keabadaian bagi setiap insan yang beriman. Selamat jalan Ara, cahayamu sumber inspirasiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar